Rabu, 21 Agustus 2013

Islamic Entrepreneurship as the Solution for Global Poverty


oleh Abdul Hafizh Asri (Manajemen 2011)
 

Islamic entrepreneurship merupakan salah satu warisan Nabi yang ternyata telah diagungkan berulang kali oleh berbagai bangsa di berbagai belahan dunia. Warisan Nabi yang-sesungguhnya-ditujukan untuk kita umatnya dalam mencapai kemakmuran, kekayaan, dan kejayaan Islam. Ia paham sepaham-pahamnya bahwa kuat dan menang di dunia dan akhirat melalui perdagangan sangat dianjurkan. Tak pelak lagi, Muhammad terang-terangan menyampaikan, "Berdaganglah engkau, karena 9 dari 10 pintu rezeki berada dalam perdagangan..".

Harus diakui, sudah pantaslah beliau menjadi Nabi akhir zaman, seorang manusia pilihan yang memberikan keteladanan dari semua sisi kehidupan. Dalam mencapai kemakmuran dan kekayaan, beliau mengajarkan dengan cara-cara yang alamiah dan ideal untuk kita terapkan dalam konsep yang dinamakan islamic entrepreneurship. Langkah-langkah strategis untuk mencapai hal itu dicontohkan secara kaffah, mulai dari motivasi yang kuat, tawakkal hanya pada Allah, bersabar hingga berserikat dengan pihak ketiga.

Di sisi lain, khalifah Ali, sahabat Nabi yang sangat sederhana pernah mengungkapkan dengan tegas, “Seandainya kemiskinan itu berwujud manusia, niscaya aku yang akan membunuhnya!” Sangat relevan dan layak untuk direnungkan bersama. Bagaimana kita sebagai seorang Muslim memiliki semangat mengentaskan kemiskinan, minimal dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Membangun kembali kultur Islam yang pro kemakmuran, dengan mengikuti jejak Nabi dan para sahabat terdahulu.

Memang perlu digarisbawahi bahwa di akhir zaman layaknya saat ini, sejak kaum Quraisy zaman dulu sampai masyarakat millenium seperti sekarang-sangatlah mengagungkan perdagangan. Namun faktanya, bangsa Yahudilah yang diam-diam menguasai bahasa perdagangan ini. Jarang-jarang orang sadar bahwa mereka mendominasi sekitar lima persen penduduk Bumi yang mengangangkangi 80 persen kekayaan dunia. Sebuah kebetulankah? Padahal di satu sisi, jumlah mereka hanya belasan juta jiwa, jauh dibawah jumlah umat Islam sekarang. Dengan piawai dan lihainya mereka menyetir kebijakan dan kekuasaan di dunia, sementara rasa benci kita terhadap kaum tertentu justru membuat kita lemah dan tak mau berbenah.

Justru hendaknya kita mengambil hikmah dan mau belajar dari kondisi saat ini. Lagipula, ada harapan dari suatu temuan yang menarik. Bahwa dalam analisa sejumlah pakar mengemukakan bahwa kekuatan besar Islam akan bangkit kembali dimuka bumi ini, sejalan dengan China. Analisa kebangkitan ini tentu bukanlah mengada-ada, terbukti di beberapa benua Islam mengalami pertumbuhan tertinggi dan menjadi agama paling banyak dianut setelah Nasrani. Sayangnya, orang Islam sendiri kurang melek akan harapan ini.

Menurut proyeksi Pusat Penelitian Pew pada bulan Januari 2011, populasi Muslim dunia diperkirakan akan meningkat sekitar 35% dalam 20 tahun ke depan. Sayangnya terus terang, dalam kurun 1.000 tahun terakhir, di banyak bidang, politik, budaya, sains apalagi ekonomi, umat Muslim sangat jauh tertinggal dibadingkan umat-umat lain. Namun, ketika orang-orang pesimis akan menganggap hal ini sebagai masalah dan ancaman, maka kita yang telah memahami islamic entrepreneurship hendaknya menganggap bahwa masalah ini sebagai peluang.

Belajar dari kondisi perekonomian yang diterapkan Nabi dan para sahabat, konsep islamic entrepreneurship itu memaknai produksi dan konsumsi secara tepat. Di satu sisi, mereka menggalakkan produksi sebesar-sebesarnya dan distribusi seluas-luasnya, agar dapat memakmurkan orang sebanyak-banyaknya. Terbukti, Nabi berdagang ke luar negeri setidaknya 18 kali, sementara Umar mewariskan 70.000 properti senilai triliunan rupiah. Namun di sisi lain, mereka juga menggalakkan konsumsi sehemat-hematnya. Memberdayakan harta sebaik mungkin, terlihat dari kesederhanaan makanan dan pakaiannya sehari-hari.

Menjadi kaya ala Nabi lewat jalan islamic entrepreneurship, inilah solusi yang coba ditawarkan untuk mengentaskan kemiskinan di muka bumi ini. Perlu diingat, bahwa kekayaan bukanlah tujuan, melainkan alat syiar, dakwah dan beribadah dalam Islam. Ya, dengan alat ini, Insya Allah kita akan lebih mudah menegakkan ekonomi syariah, meningkatkan bargaining position umat muslim, dan masih banyak lagi. Dengan begitu, bukan tidak mungkin kebangkitan dan kejayaan Islam yang digdaya dapat kembali terwujud untuk kemaslahatan umat di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar